Survei Politik oleh Wahyudi Kumorotomo

0
129

Setelah bendera start bagi kampanye Capres dikibaskan oleh , masyarakat kini disuguhi berbagai macam cara dari masing-masing tim sukses untuk menarik perhatian calon pemilih. Sebagian cara kampanye dianggap halal karena memang sah dan diperbolehkan oleh lembaga penyelenggara dan pemantau . Tetapi sebagian cara yang lain dianggap haram karena mencederai demokrasi, masuk kategori kampanye hitam (black campaign) atau tidak etis secara .

Salah satu yang belakangan ini dituding oleh sementara pihak sebagai kecurangan adalah kampanye yang menggunakan publikasi jajak-pendapat (polling) atau . Benarkah bahwa politik dapat dijadikan sebagai sarana kampanye dan bisa mempengaruhi calon pemilih? Selain menyangkut angka-angkanya, mengenai keampuhan survei sebagai pembentuk opini sampai sekarang pun masih banyak kontroversi.

Kontroversi dimulai dengan munculnya publikasi survei Lembaga Survei (LSI) yang antara lain menunjukkan bahwa tingkat elektabilitas pasangan SBY-Boediono menempati urutan teratas dengan angka 71 persen. Jika ini nanti terjadi, bisa dipastikan bahwa Pilpres
hanya akan berlangsung satu putaran. Pihak pendukung JK-Wiranto dan Mega- berang dengan hasil survei tersebut dan menuduh bahwa tim sukses SBY-Boediono sengaja menggiring opini publik melalui survei politik.

Tuduhan itu beralasan karena survai LSI konon dibiayai oleh Fox sebagai tim konsultan kampanye SBY-Boediono. Lalu sebagian tim sukses JK-Wiranto menandingi dengan menunjuk hasil polling sms di detik.com yang hasilnya menunjukkan angka 39,1 persen untuk JK-Wiranto, 29,6 persen untuk SBY-Boediono, dan 31,3 persen untuk Mega-Prabowo.

Sebagian yang lain bersikukuh dengan prediksi bahwa Pilpres akan berlangsung dua putaran dengan meyakinkan tingkat elektabilitas JK-Wiranto berkisar antara 35-40 persen. Sementara itu kubu Mega-Prabowo sejauh ini tidak terlalu banyak menanggapi soal survei elektabilitas karena menganggap bahwa hasil-hasil survei itu hanya ramalan dan yang penting adalah kenyataannya pada hari pencontrengan nanti.