Dua Orang Penjual Belut di Kota Padang Mendapatkan Smartphone Dari Nasrul Abit

0
56

Kakak Beradik Penjual Belut di yang mendapatkan bantuan Dua Smartphone dari

Padang – Belajar pada masa ini mengharuskan setiap para pelajar untuk memiliki sebuah smartphone supaya proses belajar secara daring nya bisa berjalan baik.

kebijakan dari Kementerian dan Kebudayaan ini ternyata tidak semua para pelajar yang bisa menjalankan sistem belajar secara daring. Seperti halnya yang dialami oleh dua orang kakak beradik penjual belut yang kini merantau  ke Kota Padang, Sumatera Barat.

Mereka adalah Ansyah Putra dan Pamil Prasatio Syah Puyra. Mereka hidup dengan kondisi keluarga yang bisa dikatakan jauh dari kata cukup. Pekerjaan Ayah Asraf saat ini hanya sebagai Penjualan belut hasil dari jualan yang hanya bisa memenuhi kebutuhan makan dari hari ke hari.

Dengan kondisi yang demikian, bagaimana Asraf bisa membeli sebuah smartphone untuk anak-anaknya sehingga bisa membantu proses belajar dalam masa pandemi Covid-19.

Ansyah Putra yang akrab disapa Aan menceritakan penghasilan ayahnya dari hari-hari memanglah tidak banyak dan kadang-kadang tidak menentukan. Terkadang per harinya itu bisa mendapatkan 4 kilogram belut bila cuaca lagi hujan.

Tapi bila cuaca lagi panas, hasil menangkap belut yang menggunakan lukah lebih sedikit dari pada musim hanya 2 kilogram saja. Untuk 1 kilogram belut itu dijual Rp35.000 artinya penghasilan dari ayahnya itu berkisar Rp70.000.

“Tidak setiap harinya ayah saya menangkap belut, karena butuh lihat cuaca juga. Padahal kebutuhan selalu ada dan kami ada tiga orang beradik kakak,” katanya, Sabtu (12/9/2020).

Aan pada saat ini tengah menempuh pendidikan dan berjuang meraih strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang tahun angkatan 2016 di Fakultas Hukum.

Sementara adiknya Pamil Prasatio Syah Puyra yang lebih akrab disapa Pamil masih duduk dibangku sekolah dasar, dan adiknya satu lagi dari segi usia belum mencukupi untuk bersekolah.

“Jadi kami ini perantau yang datang dari Kabupaten . Alasan merantau ke Padang untuk mencari yang lebih layak ketimbang di kampung dimana saat ini perekonomian sangat sulit,” ujar dia.

Begitu juga dengan ayahnya, menangkap belut bukannya di wilayah Kota Padang, tapi menangkap belut juga di Pesisir Selatan. Artinya ayah Aan harus bolak balik dari kampung halamannya ke Padang.

“Kata ayah harga belut di Padang lebih tinggal ketimbang di kampung. Di Padang harga belut bisa Rp60.000 per kilogramnya. Dari kondisi demikian, kami beradik kakak memang tidak punya hp yang mendukung untuk sekolah jarak jauh,” sebut Aan.

Aan menceritakan adiknya Pamil pernah libur satu minggu untuk mengikuti sekolah secara daring, karena tidak memiliki smartphone. Bicara sedih jelasnya, sementara anak-anak lainnya pada sibuk belajar setiap pagi menggunakan smartphone. Sementara adiknya, hanya bisa duduk dan berdiam diri di rumah.

Kondisi seperti itu, mau tidak mau harus dilalui oleh Pamil. Oleh kerena itu Aan harus terus berusaha mengumpulkan uang untuk membeli smartphone agar adiknya bisa belajar dan tidak libur lagi.

Setelah sekian lama kondisi itu dilalui Aan bersama adiknya, perjuangannya itu ternyata diketahui oleh Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit. Hal ini seakan memberikan secercah harapan bagi dua kakak beradik tersebut.

“Saya dapat kabar kalau pak Nasrul Abit mau datang ke rumah. Entah persoalan apa awalnya saya tidak tahu. Dan ternyata pas pak Nasrul Abit datang, beliau bawakan smartphone untuk saya dan adik saya,” ujarnya dengan nada haru, yang kini tinggal mengontrak rumah dekat dari Pasar Siteba Kecamatan Nanggalo Kota Padang.

Ketika saya didatangi oleh pak Nasrul Abit, rasa tidak percaya karena beliau merupakan seorang pemimpin besar di Sumatra Barat ini yakni seorang Wakil Gubernur dan kini juga tengah berjuang untuk maju menjadi orang nomor 1 di Sumatera Barat.

“Ada dua smartphone yang diberikan pak Nasrul Abit dengan merk Samsung. Bagi saya smartphone ini sangat luar biasa dan dapat membantu saya dan adik saya sekolah,” ujarnya.

Aan selama ini tidak memimpikan memiliki smartphone yang begitu mewah, tapi cukup dengan sebuah smartphone yang bisa digunakan untuk internetan.

“Kami sangat senang dan terharu karena ada pemimpin yang baik dan peduli dengan rakyat kecil seperti kami yang tinggal di jalan gang-gang sempit seperti ini,” sebut Aan.

Sementara itu,Bapak Nasrul Abit yang sengaja datang ke rumah keluarga Asraf dan Zulbaida ini terlihat begitu sedih kerena melihat situasi keluarga yang hanya menggantungkan hidup dari hasil tangkapan belut tersebut.

Untuk sampai kerumah Aan Nasrul Abit pun harus berjalan kaki menyesuluri gang-gang sempit. Pakaian yang digunakan oleh Nasrul Abit ketika menemui keluarga Asraf itu sangat bersahaja dan tidak terlihat sama sekali seperti seorang membanggakan jabatan yang tengah diembannya.

Sepanjang perjalanan saat memasuki gang-gang rumah itu, warga disekitaran sana menyapa Nasrul Abit, karena beliau sangat populer di kalangan masyarakat dari berbagai kalangan.

Ketika sampai di tempat tinggal Aan, Nasrul Abit disapa dan disambut sangat sederhana oleh orangtua Aan. Rumah kontrakannya terlihat sempit, tanpa ada meja tamu dan televisi, tapi hanya ada tikar yang berukuran kecil serta dihidangkan air mineral gelas.

“Yang saya salutkan itu, semangat keluarga yang ingin anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Saya merasa hp yang saya berikan itu dapat digunakan sebaik mungkin,” katanya.

Pada saat itu yang membuat Nasrul Abit begitu senang,yaitu keluarga yang ditemuinya itu turut mematuhi protokol seperti menggunakan setiap berhadapan dengan orang yang bukan anggota keluarga.

Pada saat bercerita, Nasrul Abit yang diterima langsung oleh Aan dan ibunya Zulbaida itu, terlihat wajah malu-malu mereka ketika kerena didatangi oleh sosok seorang tokoh Sumatera Barat.

“Saya kesini ingin membantu anak-anak yang membutuhkan smartphone. Bukan berarti hanya satu anak di sini yang mengalami kondisi yang demikian. Tapi memang mungkin ada anak-anak lainnya yang mengharapkan hal serupa,” ungkapnya.

Untuk itu, Nasrul Abit berharap kepada seluruh pelajar jangan sampai putus asa untuk menempuh pendidikan dalam situasi Covid-19 seperti ini.

“Awalnya saya dapat informasi dari komunitas sepeda yakni Jurnalis Sepeda Sehat. Saya kegiatan seperti ini bisa ditiru oleh komunitas lainnya agar bisa saling membantu,” ujar Nasrul Abit.(*)